Tahukah, belakangan ini saya semakin menyadari satu pelajaran berharga,
yaitu bagaimana untuk menjadi orang yang be zero expectation. Ya, zero
expectation atau bisa dibilang don't be too much expectation (meski beberapa
orang menyatakan itu berbeda) artinya memposisikan diri untuk tidak
terlalu berharap dengan suatu keadaan. Sikap seperti ini bukan berarti
pasrah, tapi tetap berharap hanya saja mempersiapkan diri untuk bisa
bergaul dengan semua kondisi. Menerima bukan karena tidak mau berusaha
mengubah tapi memang belum memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk
mengubahnya.
Be zero expectation saya rasakan sangat berguna saat memutuskan untuk
meninggalkan rumah dan menuntut ilmu di kota Padang. Tinggal di kos yang tidak
mendukung kegiatan saya, tapi saya putuskan bertahan saat semua teman
mendesak saya untuk meninggalkan rumah itu. Saya punya teman disana.
Alhasil, saya terpaksa bersabar dan akhirnya berhasil keluar dengan
ijazah sarjana di tangan.
 |
| View from Merdeka Square, MY |
Hal ini juga semakin diuji saat saya berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Menjadi volunteer di sebuah panti asuhan India yang belum pernah
saya bayangkan sedikitpun, terlebih karena satu keteledoran kecil VP
saya disana (dia lupa membawa kamera) sehingga dia tidak bisa memberi gambaran real mengenai kehidupan saya disana. Beruntung saya punya
teman-teman baik di AIESEC yang selalu memberikan support dan menekankan untuk
don't be too much expectation dengan kehidupan kita disana.
 |
| With Agathians Childreen and my buddy, tunit :) |
Berangkat ke
KL, saya sama sekali tak bisa memperkirakan kalau kehidupan disana akan
menjadi sangat diversity, dengan anak-anak India dan Chinese, dan
tempat tinggal kami yang sederhana. Awalnya saya berontak, tapi karena
prinsip diawal tadi saya akhirnya mampu menikmati bahkan akhirnya
menjadi sangat bersyukur karenanya.